SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN INVERTEBRATA, ANNELIDA, INSECTA, DAN VERTEBRATA
Nama : Yoahanesta Hoar Klau
Npm : 33200010
Semester : VI A
UTS : Fisiologi Hewan
SISTEM EKSKRESI PADA INVERTEBRATA, ENNELIDA, INSECTA, DAN VERTEBRATA
Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh, seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat, selain itu ekskresi juga dapat diartikan sebagai proses pembuangan sisa metabolisme dan benda tidak berguna lainnya. Ekskresi juga merupakan proses yang ada pada semuabentuk kehidupan.
Fungsi sistem ekskresi, antara lain: membuang limbah yang tidak berguna dan beracun dari dalam tubuh, mengatur konsentrasi dan volume cairan tubuh (osmoregulasi), mempertahankan temperatur tubuh dalam kisaran normal (termoregulasi), homeostasis.
1. Sistem Ekskresi Pada Hewan Invertebrata
Sistem ekskresi pada hewan rendah biasanya sesuai dengan habitatnya. Berbagai habitat tempat hidup hewan seperti laut, air tawar dan daratan. Berbagai alat ekskresi telah berkembang untuk mengeluarkan sampah metabolisme, untuk mengatur keseimbangan air tubuh dan keseimbangan ion. Pada umumnya, hewan tingkat rendah memiliki sistem ekskresi yang sangat sederhana, antara invertebrata satu dengan invertebrata lainnya. Alat ekskresinya berupa saluran Malphigi, nefridium, dan sel api. Berikut adalah system ekskresi pada hewan invertebrate antara lain :
A. Ekskresi Pada Amoeba
Amoeba adalah organisme bersel satu yang tidak memiliki sistem ekskresi yang terstruktur seperti pada hewan multiselular yang lebih kompleks. Namun, Amoeba dapat mengeluarkan zat-zat sisa dari metabolisme melalui proses difusi dan osmosis melalui membran sel yang semipermeabel. Zat sisa yang dihasilkan dari metabolisme Amoeba seperti karbon dioksida, amonia, dan air dapat keluar dari sel melalui proses difusi dan osmosis. Proses ini terjadi secara pasif tanpa membutuhkan energi dan mengikuti gradien konsentrasi dari lingkungan sekitarnya. Namun, jika ada zat-zat berbahaya yang masuk ke dalam sel Amoeba, sel tersebut dapat menggunakan organel sel seperti lisosom untuk mencerna dan mengeluarkan zat-zat tersebut dari dalam sel. Prosedur ini dikenal sebagai autolisis. Dalam keseluruhan, Amoeba memiliki kemampuan yang sederhana dalam mengatur dan mengeluarkan zat sisa dari metabolismenya melalui proses difusi dan osmosis, serta autolysis.
B. Ekskresi Pada Cacing Pipih ( Planaria )
Cacing pipih atau Platyhelminthes adalah hewan invertebrata yang memiliki sistem ekskresi yang sederhana. Sistem ekskresi pada cacing pipih terdiri dari beberapa nefridia, yaitu organ yang berfungsi untuk menyaring zat-zat sisa metabolisme dari cairan tubuh dan mengeluarkannya ke lingkungan eksternal.Nefridia terdiri dari tiga bagian utama yaitu kapiler yang mengambil cairan tubuh, tubulus yang berfungsi menyaring zat-zat sisa, dan duktus yang mengeluarkan zat-zat sisa ke lingkungan eksternal. Cairan tubuh yang masuk ke dalam nefridia melalui kapiler, kemudian melewati tubulus yang terdapat banyak sel-sel penyaring (flame cell). Flame cell ini berperan dalam menyaring dan menyerap zat-zat sisa seperti amonia, urea, dan air dari cairan tubuh. Setelah zat-zat sisa disaring, sisa-sisa tersebut akan dikeluarkan melalui duktus ke lingkungan eksternal. Selain itu, cacing pipih juga dapat mengeluarkan zat sisa dari metabolismenya melalui difusi langsung ke lingkungan eksternal melalui permukaan tubuhnya. Namun, sistem nefridia ini lebih efektif dalam mengatur keseimbangan air dan elektrolit pada tubuh cacing pipih dan membantu membuang zat sisa yang lebih kompleks. Meskipun sistem ekskresi pada cacing pipih relatif sederhana, namun sistem nefridia ini sudah memadai untuk memastikan keseimbangan cairan dan zat sisa dalam tubuhnya
2. Sistem Ekskresi pada Anelida dan Molluska
Anellida atau cacing gelang memiliki sistem ekskresi yang lebih kompleks dibandingkan dengan cacing pipih. Anellida memiliki nefridia yang terdapat di setiap segmen tubuhnya. Nefridia pada Anellida terdiri dari metanefridia yang berfungsi untuk mengambil cairan tubuh dan memisahkan zat-zat sisa seperti amonia, urea, dan asam urat dari cairan tubuh. Zat-zat sisa tersebut kemudian dikeluarkan melalui pori-pori ekskresi yang terdapat pada setiap segmen tubuh. Selain itu, Anellida juga memiliki nefrostomata, yaitu lubang yang berfungsi untuk mengambil cairan tubuh dan zat-zat sisa dari rongga selom. Zat-zat sisa ini kemudian dialirkan melalui nefridia dan dikeluarkan melalui pori-pori ekskresi pada setiap segmen tubuh. Nefrostomata pada Anellida juga berfungsi untuk mengatur keseimbangan air dan elektrolit dalam tubuh.
Moluska memiliki sistem ekskresi yang terdiri dari nefridia dan organ ekskresi tambahan. Nefridia pada Moluska berfungsi untuk mengambil cairan tubuh dan memisahkan zat-zat sisa seperti amonia, urea, dan asam urat dari cairan tubuh. Zat-zat sisa ini kemudian dikeluarkan melalui duktus ekskresi dan dibuang ke lingkungan eksternal melalui nefridiopora.
Selain nefridia, Moluska juga memiliki organ ekskresi tambahan seperti organ pencernaan, pernapasan, dan ginjal. Organ pencernaan pada Moluska juga berfungsi sebagai organ ekskresi karena dapat membuang sisa-sisa pencernaan seperti feses dan zat-zat sisa lainnya. Organ pernapasan pada Moluska juga berfungsi sebagai organ ekskresi karena dapat mengeluarkan karbon dioksida dari tubuh. Sedangkan ginjal pada Moluska berfungsi untuk mengambil cairan tubuh dan memisahkan zat-zat sisa dari cairan tersebut. Zat-zat sisa kemudian dikeluarkan melalui duktus ekskresi dan dibuang ke lingkungan eksternal melalui nefridiopora. Secara keseluruhan, sistem ekskresi pada hewan Anellida dan Moluska terdiri dari nefridia dan organ ekskresi tambahan yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan air dan elektrolit dalam tubuh serta membuang zat-zat sisa dari metabolisme.
3. Sistem Ekskresi pada Insecta
Sistem ekskresi pada hewan Insecta, termasuk serangga, terdiri dari organ ekskresi khusus yang disebut tubulus Malpighi. Organ ini terdiri dari serangkaian silinder kecil yang terhubung dengan usus dan terletak di bagian posterior tubuh serangga.Tubulus Malpighi berfungsi untuk menyaring dan mengeluarkan zat-zat sisa seperti asam urat dari cairan hemolimfa atau darah serangga. Asam urat adalah zat sisa hasil dari metabolisme protein dan purin yang mudah larut dalam air. Dalam tubulus Malpighi, asam urat disaring dan dikeluarkan melalui ujung tubulus ke dalam usus serangga. Pada usus, zat sisa ini dicampur dengan feses sebelum dikeluarkan melalui anus.Selain tubulus Malpighi, serangga juga memiliki organ ekskresi tambahan seperti kelenjar koksa yang terletak di kepala dan berfungsi untuk memproduksi enzim pencernaan, serta kelenjar air liur yang berfungsi untuk membantu proses pencernaan makanan. Sistem ekskresi pada serangga juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan air dan elektrolit dalam tubuh. Serangga yang hidup di lingkungan kering dan panas, seperti padang pasir, menghasilkan asam urat yang lebih banyak daripada serangga yang hidup di lingkungan yang lebih lembab, seperti hutan hujan. Hal ini karena asam urat tidak mudah larut dalam air sehingga tidak memerlukan banyak air untuk dikeluarkan dari tubuh.Secara keseluruhan, sistem ekskresi pada serangga terdiri dari tubulus Malpighi dan organ ekskresi tambahan yang berfungsi untuk membuang zat sisa dari metabolisme dan menjaga keseimbangan air dan elektrolit dalam tubuh serangga. Contoh gambar ekskresi pada hewan belalang (Orthoptera)
4. Sistem Ekskresi Pada Hewan Vertebtara
Sistem ekskresi pada hewan vertebrata, seperti ikan, amfibi, reptil, burung, dan mamalia, terdiri dari beberapa organ penting, yaitu ginjal, hati, kulit, dan paru-paru. Ginjal adalah organ utama sistem ekskresi pada vertebrata. Ginjal berfungsi untuk menyaring darah dari limbah metabolisme dan zat-zat beracun, seperti urea, asam urat, dan kreatinin, dan mengeluarkannya dalam bentuk urin. Urin disimpan sementara di kandung kemih sebelum dikeluarkan melalui uretra. Hati Hati adalah organ yang berperan dalam metabolisme protein dan detoxifikasi. Hati membantu memetabolisme protein dalam darah dan mengubah ammonia menjadi urea yang kemudian akan diekskresikan melalui ginjal. Hati juga membantu menghilangkan zat-zat beracun dalam darah, seperti alkohol dan obat-obatan. Kulit Kulit pada vertebrata juga memiliki peran dalam sistem ekskresi, terutama pada hewan yang hidup di air, seperti ikan. Pada ikan, zat-zat sisa seperti amonia dihasilkan melalui metabolisme protein dan diekskresikan langsung melalui kulit. Paru-paru Paru-paru pada vertebrata, terutama pada mamalia, juga berperan dalam ekskresi gas karbon dioksida dari tubuh. Gas karbon dioksida dihasilkan melalui metabolisme sel dan kemudian dibawa oleh darah ke paru-paru untuk diekskresikan dari tubuh melalui pernapasan.
A. Sistem ekskresi pada pisces atau ikan
Ekskresi pada pisces terdiri dari beberapa organ yang berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme dari tubuh ikan. Organ-organ tersebut meliputi ginjal, kulit, insang, dan kantung udara (swim bladder).
1. Ginjal pada ikan berfungsi untuk menyaring darah dan mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme seperti amonia, asam urat, dan urea. Ginjal pada ikan terdiri dari sepasang organ yang terletak di dekat tulang belakang. Ginjal ikan memiliki ciri khas berupa banyaknya nefron yang terdapat di dalamnya. Nefron berfungsi untuk menyaring darah dan mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme dalam bentuk urin. Urin yang dihasilkan oleh ginjal akan dibuang melalui saluran kemih ke lingkungan sekitar.
2. Kulit pada ikan juga berperan dalam ekskresi zat-zat sisa metabolisme, terutama amonia. Pada beberapa spesies ikan, terdapat sel khusus pada kulit yang disebut sel klora, yang berfungsi untuk mengeluarkan amonia langsung ke lingkungan sekitar. Kulit ikan juga memiliki kelenjar yang menghasilkan lendir untuk melindungi kulit dari infeksi bakteri dan virus.
3. Insang pada ikan berfungsi sebagai organ pernapasan yang juga berperan dalam ekskresi zat-zat sisa metabolisme. Di dalam insang, terdapat pembuluh darah yang memungkinkan pertukaran gas antara darah dan air. Karbondioksida yang dihasilkan oleh metabolisme sel akan diekskresikan melalui insang ke lingkungan sekitar.
4. Kantung udara (swim bladder) pada beberapa spesies ikan juga berperan dalam ekskresi zat-zat sisa metabolisme. Kantung udara berfungsi sebagai alat bantu renang dan juga dapat berperan sebagai tempat penyimpanan gas nitrogen yang dihasilkan oleh metabolisme sel. Pada beberapa spesies ikan, kantung udara juga dapat berfungsi untuk mengeluarkan amonia langsung ke lingkungan sekitar.
B. Sistem ekskresi pada amfibi
Amfibi memiliki sistem ekskresi yang terdiri dari beberapa organ, yaitu ginjal, kulit, dan paru-paru. Sistem ekskresi pada amfibi berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme dari tubuh, seperti amonia, urea, dan asam urat.
1. Ginjal pada amfibi berfungsi sebagai organ utama dalam ekskresi. Ginjal pada amfibi terdiri dari sepasang organ yang terletak di dekat tulang belakang. Pada beberapa spesies amfibi, ginjal memiliki ciri khas berupa banyaknya nefron yang terdapat di dalamnya. Nefron berfungsi untuk menyaring darah dan mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme dalam bentuk urin. Urin yang dihasilkan oleh ginjal akan dibuang melalui saluran kemih ke lingkungan sekitar.
2. Kulit pada amfibi berfungsi sebagai organ sekunder dalam ekskresi. Kulit amfibi memiliki kemampuan untuk menyerap air dan garam, sehingga dapat mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme, terutama amonia, melalui proses difusi. Pada beberapa spesies amfibi, kulit juga memiliki kelenjar yang menghasilkan lendir yang berfungsi untuk melindungi kulit dari infeksi dan mengurangi penguapan air dari tubuh.
3. Paru-paru Paru-paru pada amfibi berfungsi sebagai organ pernapasan yang juga berperan dalam ekskresi. Di dalam paru-paru, terdapat pembuluh darah yang memungkinkan pertukaran gas antara darah dan udara. Karbondioksida yang dihasilkan oleh metabolisme sel akan diekskresikan melalui paru-paru ke udara.
Secara keseluruhan, sistem ekskresi pada amfibi terdiri dari ginjal, kulit, dan paru-paru, yang bekerja sama untuk mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme dari tubuh dan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh amfibi. Namun, beberapa spesies amfibi seperti kodok memiliki perubahan sistem ekskresi yang signifikan selama siklus hidupnya, dimana saat menjadi dewasa, mereka cenderung menggunakan ginjal dan saat menjadi berudu, kulit menjadi lebih berperan dalam ekskresi.
C. Sistem Ekskresi Pada Reptil
Sistem ekskresi pada reptil terdiri dari ginjal, usus, dan kelenjar yang terdapat di kulit mereka. Ketiga organ ini berfungsi untuk membuang limbah dari metabolisme tubuh.
1. Ginjal pada reptil terletak di sepanjang tulang belakang dan terdiri dari beberapa lobus yang disebut nefron. Setiap nefron memiliki kapiler yang terhubung dengan arteri dan vena untuk menyaring darah dan menghasilkan urin. Urin yang dihasilkan oleh ginjal akan dikumpulkan di kandung kemih dan dikeluarkan dari tubuh melalui kloaka.Selain ginjal, reptil juga memiliki sistem ekskresi tambahan yang terdapat di kulit mereka.
2. Kelenjar khusus pada kulit reptil, seperti kelenjar garam pada ular laut dan kelenjar asam urat pada kura-kura, berfungsi untuk membuang limbah dari tubuh melalui proses sekresi. Selain itu, usus pada reptil juga berperan dalam sistem ekskresi.
3. Usus pada reptil berfungsi untuk menyerap air dan garam dari makanan, sehingga kotoran yang dihasilkan menjadi kering dan mudah dikeluarkan melalui kloaka.
Dalam hal ekskresi, reptil memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghemat air dibandingkan dengan hewan-hewan lain. Hal ini disebabkan karena lingkungan hidup reptil cenderung kering dan air yang tersedia dalam jumlah terbatas.
Secara keseluruhan, sistem ekskresi pada reptil sangat efektif dalam membuang zat-zat sisa metabolisme dari tubuh dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
D. Sistem Ekresi pada Manusia
Sistem ekskresi pada mamalia terdiri dari beberapa organ utama, yaitu ginjal, kandung kemih, uretra, dan kelenjar keringat. Ginjal pada mamalia berfungsi sebagai organ utama dalam proses ekskresi dan mengeluarkan limbah dari metabolisme tubuh, seperti urea dan kreatinin.
Ginjal pada mamalia terdiri dari jutaan unit fungsional yang disebut nefron. Setiap nefron terdiri dari glomerulus dan tubulus yang terhubung dengan pembuluh darah. Glomerulus berfungsi untuk menyaring darah dan menghasilkan urine, yang kemudian akan disimpan di kandung kemih sebelum dikeluarkan melalui uretra.
Selain ginjal, kelenjar keringat juga berperan dalam ekskresi pada mamalia. Kelenjar keringat berfungsi untuk mengeluarkan limbah dalam bentuk air dan elektrolit dari tubuh. Proses ini juga membantu mengatur suhu tubuh melalui proses evaporasi.
Sistem ekskresi pada mamalia juga melibatkan organ-organ lain seperti hati, paru-paru, dan usus. Hati berfungsi untuk mengubah zat-zat sisa metabolisme menjadi zat yang lebih mudah untuk dihilangkan oleh ginjal. Paru-paru berfungsi untuk mengeluarkan karbondioksida dari tubuh melalui proses pernapasan, sementara usus berfungsi untuk menyerap air dan elektrolit dari kotoran sebelum dikeluarkan dari tubuh.
Selain itu, mamalia juga memiliki organ-organ ekskresi tambahan seperti kelenjar susu pada betina, yang berfungsi untuk mengeluarkan susu sebagai sumber nutrisi bagi bayi.
Secara keseluruhan, sistem ekskresi pada mamalia sangat efektif dalam mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme dari tubuh. Organ-organ yang terlibat dalam proses ekskresi bekerja sama untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh mamalia.
Komentar
Posting Komentar